HOMESCHOOLING SEBAGAI ALTERNATIF MENGATASI KETERBATASAN PENDIDIKAN FORMAL

Posted: Desember 19, 2010 in Pendidikan

Abstrak

Pendidikan merupakan proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat dan memiliki tujuan agar manusia dapat berkembang lebih utuh. Orang tua adalah orang utama yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak, namun orang tua juga memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat memenuhi kewajibannya. Sekolah publik merupakan tempat untuk membantu orang tua memenuhi tanggung jawab tersebut. Beberapa penyebab mengindikasikan bahwa sebagian anak justru mengalami kegagalan untuk berkembang sesuai dengan potensi dan keunikannya di sekolah. Untuk itu pendidikan formal butuh keterlibatan pendidikan informal untuk meningkatkan dan menjawab kebutuhan dan menutupi keterbatasan tersebut. Salah satu keberadaan pendidikan informal yang mulai diakui dan dapat dijadikan alternatif adalah homeschooling.

Kebijakan pemerintah dan pengakuan masyarakat terhadap bentuk pendidikan ini semakin kuat setelah muncul kesepakatan perjanjian antara Dirjen PLS Depdiknas dengan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAHPENA) pada januari 2007. Kesepakatan ini muncul dengan dilandasi UU no.20 tahun 2003 pasal 27 ayat 1 dan 2. Penyetaraan pendidikan homeschooling dilakukan dalam bentuk penilaian pendidikan kesetaraan untuk program paket A, B dan C.

Keputusan orang tua untuk mendidik anak di rumah harus disertai dengan pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang homeschooling. Klasifikasi homeschooling di Indonesia terbagi atas homeschooling tunggal, homeschooling majemuk, dan komunitas homeschooling. Orang tua atau peserta didik dapat memilih salah satu klasifikasi tersebut, disesuaikan dengan alasan dan kepentingannya masing-masing. Homeschooling dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Adapun pendekatan yang digunakan yaitu school at-home, unit studies, Charlotte Mason atau The Living Book Approach; Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic; dan unschooling atau Natural Learning. Kurikulum yang digunakan terbagi dua yaitu kurikulum nasional yang dapat dimodifikasi oleh orang tua dan kurikulum luar yang disediakan per paket. Pemerintah menetapkan langkah-langkah pelaksanaan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi para peserta homeschooling. Kelemahan dan kekuatan homeschooling juga harus benar-benar dipahami dan dipelajari oleh orang tua pada saat akan memutuskan untuk memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Kunci keberhasilan homeschooling terletak pada disiplin dan komitmen orang tua dalam melaksanakan pendidikan.

Kata kunci : Pendidikan Informal, Homeschooling, Pendidikan Kesetaraan


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan menjadi bagian penting ketika dipahami secara luas sebagai sebuah proses belajar yang berlangsung terus menerus sepanjang hayat. Proses tersebut terjadi alami baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pengalaman hidup sehari-hari. Bagi manusia, semua itu dilakukan untuk menyiapkan diri agar menjadi utuh, sehingga dapat menunaikan tugas hidupnya dengan baik dan wajar. Utuh dalam pengertian bahwa melalui pendidikan, manusia dapat menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya untuk dapat terus bertahan hidup. Dengan demikian pendidikan bertujuan menggali dan mempertajam potensi keunikan pribadi agar dapat berguna bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Hal ini berarti pula bahwa pendidikan membantu manusia untuk menemukan potensi dan bakatnya serta berkembang sesuai dengan keunikan dan keahliannya masing-masing, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah hak untuk semua orang. Untuk memenuhi hak tersebut orang tua merupakan orang utama dan pertama yang berkewajiban dalam memberikan pendidikan.

Kebutuhan pokok yang semakin meningkat membuat orang tua tidak mampu melaksanakan kewajibannya dalam mendidik anak, orang tua harus bekerja untuk membangun negara dan hidupnya. Negara memahami permasalahan tersebut kemudian membentuk sekolah publik agar anak-anak yang seharusnya dididik di rumah tetap mendapat hak dalam pendidikan. Sekolah juga mampu memenuhi kebutuhan pendidikan mendalam yang tidak mampu diberikan orang tua karena keterbatasan tertentu. Namun esensi dari pendidikan sebagai proses belajar mengoptimalkan potensi unik pribadi menjadi bias karena sekolah memiliki tujuan tertentu yang dikembangkan sesuai tujuan kelembagaan. Lulusan sekolah diharapkan terbentuk sesuai dengan tujuan kelembagaan tanpa melihat potensi unik pribadi yang seharusnya dikembangkan. Istilah bahwa sekolah merupakan proses pembodohan dan menghasilkan robot-robot kemudian menjadi citra sekolah sebagai pendidikan formal.

Beberapa anak mampu berkembang optimal di sekolah, namun sebagian lagi mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan anak masuk sekolah menurut John Holt dalam How Children Fail adalah karena ketakutan, kebosanan dan kebingungan. Rasa takut sebagai penyebab pertama mengandung arti anak takut dengan harapan-harapan orang tua yang sangat tinggi sehingga berada dalam tekanan. Akhirnya pendidikan dilakukan semata-mata untuk memenuhi harapan orang tua saja bukan untuk memenuhi kebutuhan anak untuk hidup. Penyebab kegagalan kedua adalah kebosanan karena kurikulum yang digunakan tidak relevan, tidak penting dan tidak menarik untuk anak. Kurikulum dibuat hanya berdasarkan acuan atau standar dari pemerintah, tidak melihat kebutuhan anak yang sesungguhnya. Penyebab ketiga adalah karena kebingungan. Hal ini terjadi karena apa yang diterima dan dipahami anak di sekolah tidak relevan dan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga anak tidak mampu menerapkan apa yang didapat dan diperoleh dari sekolah untuk hidup. Oleh karena itu pendidikan formal memiliki keterbatasan, sekolah tidak mampu menjangkau anak-anak dengan kebutuhan spesifik dan khusus yang sesuai dengan keunikannya. Pendidikan formal dengan segala keterbatasan membutuhkan jalur informal untuk menyempurnakan sehingga pendidikan layak dikatakan sebagai proses belajar.

Kegagalan sekolah dalam membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan potensi dan bakat, mendorong orang tua untuk kembali ikut serta dalam pendidikan, mengingat bahwa mendidik anak sebenarnya adalah tanggung jawab orang tua. Kerjasama antar kedua pihak yaitu sekolah dan orang tua dapat diciptakan untuk saling menutupi keterbatasan dalam berbagai hal tersebut. Namun beberapa keluarga memutuskan untuk lebih fokus pada pendidikan dengan cara mengambil sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak sampai anak masuk ke perguruan tinggi. Adapun alasan orang tua ketika memutuskan menyekolahkan anak di rumah tidak hanya karena keterbatasan akademik dalam pendidikan formal saja namun juga pada keinginan memfokuskan anak pada satu bidang moral yang selama ini tidak diperoleh di sekolah (pembiasaan nilai agama yang spesifik). Kemudian dengan alasan lain misalnya, masalah lingkungan sosial di sekolah yang tidak selamanya positif, anak memerlukan perhatian khusus (anak cacat/abnormal), tidak punya biaya untuk sekolah, jarak sekolah dan rumah yang terlalu jauh dan lain sebagainya. Alasan-alasan ini kemudian mencetuskan adanya homeschooling.

Homeschooling semakin diakui keberadaannya ketika pemerintah memberikan kebijakan bahwa pendidikan yang dilakukan dalam keluarga dan lingkungan masuk dalam pendidikan jalur informal. Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Dirjen PLS, Depdiknas, kemudian merumuskan pengertian homeschooling. Homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau di tempat-tempat lain dimana proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal (Direktorat Pendidikan Kesetaraan; 2006; hal 12). Dari pengertian tersebut jika dijalankan dengan benar pada hakekatnya pendidikan telah terlaksana dengan baik. Tak lepas dari itu orang tua berperan sebagai kunci utama keberhasilan homeschooling dan hasil bentukan proses pendidikan tersebut diharapkan dapat mengembangkan potensi unik agar berguna untuk lingkungan dan diri sendiri. Contoh tokoh yang melakukan homeschooling adalah Thomas Alfa Edison dan Benyamin Franklin.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka permasalahan yang dapat ditarik yaitu :

  1. Apa yang dimaksud dengan homescooling?
  2. Bagaimana kurikulum dan pelaksanaan homeschooling tersebut?
  3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung terbentuknya homeschooling?
  4. Apa saja perbedaan homeschooling dengan sekolah umum?
  5. Apa saja kekurangan dan kelebihan dari homeschooling?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pemerintah dalam mendirikan homeschooling yang digunakan sebagai suatu alternatif lain dalam mengatasi keterbatasan pendidikan formal.

1.4. Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini diharapkan dapat

1.5. Metode Penulisan

Metode yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini adalah melalui metode studi pustaka yaitu mempelajari data-data yang telah ada di buku maupun mengumpulkan data melalui situs-situs di internet.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Homeschooling

Istilah Homeschooling sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti sekolah rumah. Homeschooling berakar dan bertumbuh di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan praktek belajar (www.gogle.com :keluarga homeschooling indonesia:bdk. Sumardiono, 2007:4).

Homeschooling adalah salah satu model belajar bagi anak-anak. Homeschooling bukan berarti tidak belajar. Sekolah bukan satu-satunya tempat belajar anak dan cara anak untuk mempersiapkan masa depannya. (www.gogle.com :keluarga homeschooling indonesia).

2.2 Kebijakan Homeschooling

Homeschooling masuk dalam jalur pendidikan informal. Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1), yang berisi sebagai berikut : Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Homeschooling menjadi bagiannya karena pendidikan dilakukan di rumah atau dalam keluarga. Kemudian pasal 27 ayat (2) mengatur tentang penilaian pendidikan informal yang mengatakan bahwa hasil pendidikan informal dihargai setara dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah melalui proses penyetaraan. Penyetaraan tersebut mengacu pada standar pendidikan nasional dan dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah. Proses penyetaraan pendidikan informal sering disebut dengan ujian nasional kesetaraan. Ujian nasional pendidikan kesetaraan ini dilakukan per paket, yaitu Paket A untuk peserta dengan tingkatan pendidikan setara Sekolah Dasar, ujian Paket B untuk peserta didik dengan tingkatan pendidikan setara SMP, dan Paket C untuk peserta didik dengan tingkatan pendidikan setara SMU. Dengan demikian keluarga yang memilih homeschooling tetap mendapat pengakuan dari masyarakat ataupun pemerintah dalam melakukan pendidikan di masing-masing kelompok, selain itu pemerintah juga dapat memantau mutu pendidikan yang dilakukan secara informal.

Untuk melengkapi hasil proses belajar yang sesungguhnya seperti yang dilakukan di sekolah maka peserta homeschooling harus mengumpulkan beberapa bentuk hasil kegiatan belajar seperti penilaian mandiri dengan mengerjakan berbagai latihan yang terintegrasi dalam setiap modul, penilaian formatif oleh tutor melalui pengamatan, diskusi, penugasan, ulangan, proyek, dan portofolio, dalam proses tutorial, penilaian semester, dan Ujian Nasional oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional yang dilakukan per paket tersebut. Adapun mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan adalah sebagai berikut:1) Paket A: PPKN, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, IPA; 2) Paket B: PPKn, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA; 3) Paket C IPS: PPKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, Tatanegara, Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ekonomi; 4) Paket C IPA: PPKn, Bahasa Inggris, Biologi, Bahasa dan Sastra Indonesia, Fisika, dan Matematika; 5) Paket C Bahasa: PPKn, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah Budaya, Sastra Indonesia, dan Bahasa Asing Pilihan. Dengan mengikuti penilaian yang ditetapkan pemerintah maka peserta homeschooling tetap dapat diakui keberadaannya sesuai dengan standar pendidikan nasional dan dapat melanjutkan ke pendidikan formal.

Pengakuan adanya homeschooling di Indonesia semakin dipertegas dengan dikeluarkannya kesepakatan pada tanggal 7 Januari 2007, oleh Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas (PLS Depdiknas) dengan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAHPENA). Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Ace Suryadi, Ph. D (Dirjen PLS Depdiknas) dan Dr. Seto Mulyadi (Ketua Umum ASAHPENA). Adapun kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan ASAHPENA berkaitan dengan pendataan dan pengadministrasian, sosialisasi program Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan Kesetaraan, penyiapan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia pendukung program Sekolahrumah, penyiapan dan pengembangan kurikulum, bahan ajar, dan penilaian hasil belajar program Sekolahrumah, memberikan bimbingan teknis, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program Sekolahrumah.

Pada surat kesepakatan itu pula dirumuskan tugas dan tanggung jawab Depdiknas serta Asah Pena. Tugas dan tanggung jawab Depdiknas adalah sebagai berikut : 1) menyiapkan acuan, kriteria, dan prosedur yang terkait dengan Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan Kesetaraan; 2) memberikan bimbingan teknis dan evaluasi terhadap penyelenggaraan Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan Kesetaraan; 3) memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap penyelenggaraan Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan Kesetaraan; 4) melaksanakan bimbingan teknis, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan untuk mengendalikan mutu Komunitas Sekolahrumah; 5) memberikan rekomendasi/ijin keberadaan Komunitas Sekolahrumah sesuai prosedur.

Tugas dan tanggung Jawab AsahPena adalah : 1) melaksanakan pendataan dan pengadministrasian calon/peserta didik dan keluarga penyelenggaran Sekolahrumah; 2) menyiapkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang diperlukan; 3) menyediakan sumberdaya sarana-prasarana pendukung pembelajaran; 4) menyelenggarakan Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan Kesetaraan sejenis; 5) melakukan pemantauan, evaluasi, dan pembinaan serta pelaporan secara berkala tentang Komunitas Sekolahrumah; 6) memfasilitasi peserta didik Komunitas Sekolahrumah untuk dapat mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Ijazah Pendidikan Kesetaraan dan diakui sebagai ijazah yang dapat digunakan untuk masuk sekolah/pendidikan formal, termasuk perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Berdasarkan penjabaran tersebut maka komunitas homeschooling (sekolahrumah) sudah diakui keberadaannya dan Asahpena milik Seto Mulyadi atau yang dikenal dengan nama Kak Seto diberi wewenang untuk memfasilitasi, melakukan pendataan, menyiapkan pendidik, sarana prasarana dan melakukan pemantauan pertumbuhan homeschooling di Indonesia. (www.yahoo.com : keluarga homeschooling indonesia:oleh Aar, 01 Februari 2007)

2.3 Klasifikasi Homeschooling

Salah satu langkah yang harus dilakukan orang tua ketika memutuskan untuk melakukan homeschooling adalah dengan memilih terlebih dahulu klasifikasi atau format homeschooling yang diinginkan. Di Indonesia homeschooling terbagi dalam beberapa klasifikasi atau format kegiatan. Klasifikasi tersebut antara lain; homeschooling tunggal, homeschooling majemuk, dan komunitas homeschooling. Setiap klasifikasi memiliki tantangan dan konsekuensi yang harus diperhatikan oleh para orang tua.

Klasifikasi homeschooling yang pertama adalah homeschooling tunggal. Homeschooling tunggal merupakan homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua, tanpa bergabung dengan keluarga lain. Adapun alasan memilih jenis ini adalah ada tujuan atau alasan tertentu dari orang tua dan alasan tempat tinggal sehingga tidak dapat dikompromikan dan tidak memungkinkan untuk berhubungan dengan komunitas homeschooling lainnya, misalnya jarak tempat tinggal, anak memiliki kebutuhan khusus dan lain sebagainya. Beberapa tantangan dari homeschooling tunggal adalah orang tua/wali tidak mendapat dukungan dari keluarga lain jika mengalami hambatan atau jika ingin bertanya, ingin berbagi serta membandingkan keberhasilan proses belajar anak. Orang tua juga harus menyelenggarakan penilaian sendiri terhadap hasil pendidikan anak sesuai dengan standar pendidikan formal atau standar yang ditetapkan oleh komunitas homeschooling.

Klasifikasi yang kedua adalah homeschooling majemuk. Homeschooling tipe kedua ini merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh para orang tua/wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak selalu berhubungan dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau di tempat/fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara teratur dan terstruktur. Homeschooling ini dilakukan bersama dengan dua atau lebih keluarga yang memiliki kebutuhan yang sama akan pendidikan. Adapun alasan memilih jenis ini adalah ada kesamaan kebutuhan dari beberapa keluarga yang dapat dikompromikan sehingga dapat melakukan kegiatan bersama. Beberapa tantangan homeschooling majemuk adalah dari segi kekompakan, perlu adanya kompromi dan fleksibilitas setiap keluarga dalam menyesuaikan jadwal, suasana dan fasilitas tertentu. Untuk kelompok yang besar maka harus ada pengawasan bimbingan, atau pelatihan dari seorang ahli tertentu. Meskipun demikian orang tua tetap harus ada dan bertanggung jawab atas proses pendidikan anaknya.

Jika beberapa homeschooling majemuk bergabung menjadi satu maka membentuk komunitas. Komunitas homeschooling merupakan klasifikasi/format ketiga dari homeschooling. Komunitas ini menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, saran dan prasarana, dan jadwal pelajaran sendiri sehingga dapat dilakukan bersama-sama dengan homeschooling lainnya. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan porsi 50:50 antara orang tua dan komunitas. Adapun alasan memilih komunitas homeschooling ini adalah adanya kebutuhan yang sama, sosialisasi anak semakin luas, orang tua mendapat dukungan dari keluarga lain, dan dapat memenuhi kebutuhan belajar anak dalam tingkatan yang lebih. Adapun tantangan yang dihadapi sama halnya dengan homeschooling majemuk, namun untuk tindakan prefentif anak perlu dipersiapkan untuk menghadapi setiap perbedaan antar teman dalam satu komunitas. Beberapa komunitas homeschooling di Indonesia; Bandung Homeschooling Center , eHugheschooling, Kerlip, Komunitas Berkemas, Komunitas HS Kak Seto, Komunitas HS Pelangi, Komunitas Sekolah Dolan, Morning Star Academy (MSA) dan Rumah Cerdas. ( www.homeschooling.com/indonesia.htm diakses tanggal 30 mei 2009 )

2.4 Pendekatan Homeschooling

Pendekatan homeschooling adalah pendekatan yang dapat dipilih oleh orang tua dalam melaksanakan proses pendidikan di rumah. Pendekatan tersebut antara lain school at-home, unit studies, Charlotte Mason atau The Living Book Approach; Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic; dan unschooling atau Natural Learning.

Pendekatan school at home merupakan pendekatan pendidikan yang dilakukan seperti pendidikan di sekolah, namun pendidikan tersebut dilakukan di rumah. Pendekatan ini sering disebut dengan textbook approach, traditional approach, atau school. Pendekatan unit studi adalah pendekatan pendidikan yang berdasar pada tema. Pembelajaran tidak dilakukan dengan mempelajari mata pelajaran terpisah-pisah namun satu tema dikaitkan dengan seluruh mata pelajaran.

Pendekatan The living books adalah pendekatan pendidikan yang mengambil pengalaman dari dunia nyata. Pendekatan ini mengajak anak untuk masuk dalam dunia nyata dan mengajarkan kebiasaan baik, dan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung pada anak. Pendekatan classical adalah pendekatan yang menggunakan kurikulum yang mendasarkan anak pada tiga tahap perkembangan. Penekanan pendekatan ini adalah pada kemampuan ekspresi verbal dan tertulis, pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).

Pendekatan waldorf menerapkan setting sekolah seperti di rumah, sehingga mudah diadaptasi untuk homeschooling. Pendekatan Montesori adalah pendekatan yang mendorong menyiapkan anak pada lingkungan yang mendukung anak pada dunia nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak dan lingkungan sehingga anak mampu mengembangkan potensinya. Pendekatan Elektrik adalah pendekatan pendidikan yang memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendisain program homeschooling yang sesuai dengan memilih dan mengembangkan sistem yang ada. Dan pendekatan Unschooling adalah pendekatan pendidikan yang menekankan pada minat anak akan keinginan natural anak dalam dunia nyata.

Pendekatan-pendekatan ini dapat dipilih oleh orang tua sesuai dengan keinginan pendidikan yang diharapkan. Orang tua juga dapat mengkombinasikan beberapa pendekatan agar bentuk kegiatan belajar dapat lebih flesibel dan menyenangkan. (www.yahoo.com : keluarga homeschooling indonesia :The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling”, Marsha Ransom, 2001)

2.5 Kurikulum Homeschooling

Homeschooling dapat menggunakan berbagai kuikulum. Kurikulum nasional yang digunakan berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan. Kemudian dimodifikasi dengan beberapa bidang kurikulum yang menjadi minat, potensi, dan kebutuhan yang ingin dikembangkan, misalnya anak ingin mengembangkan minatnya dalam bermain musik maka dalam kurikulum dapat ditambahkan kegiatan bermain musik menjadi bagian dalam fokus pendidikan atau homeschooling untuk keluarga atlit dapat menambahkan kurikulum kegiatan berolah raga lebih banyak disela-sela pelaksanaan bidang pendidikan yang lain.

Kurikulum lain yang dapat digunakan adalah kurikulum yang berasal dari luar negeri. Kurikulum ini biasanya sudah disiapkan langsung dengan paket lembar kerja, buku bacaan, lembar evaluasi, dan materi dalam satu tahun. Orang tua dapat membeli paket kurikulum ini dengan harga tertentu. Di Indonesia paket kurikulum seperti ini sudah dirancang/disusun oleh komunitas sekolahrumah milik kak seto ”Asah Pena”. Modul, lembar kerja, lembar evaluasi dan materi telah disediakan, jadwal pertemuan antar orang tua dan pihak komunitas juga telah dirancang selama beberapa periode. Adapun tujuannya adalah agar mutu pendidikan setiap homeschooling yang tergabung dalam komunitas tersebut dapat terpantau dan tetap terjaga kualitasnya. ( asahpenaindonesia@yahoogroups.com : diakses tanggal 28 april 2009 )

2.6 Pelaksanaan Homeschooling

Kegiatan yang harus dilakukan orang tua sebelum melaksanakan homeschooling adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kelebihan dan kelemahan format homeschooling yang diinginkan. Kemudian orang tua mencocokkan setiap format dengan karakteristik anak dan tujuan pendidikan yang ingin diberikan pada anak. Berkaitan dengan pemilihan format selain melihat pada karakteristik anak, orang tua juga sebaiknya mengukur kemampuannya dalam mengajar, dan bagaimana memberi perhatian pada anak dalam belajar. Hal ini terkait erat dengan pemilihan kurikulum dan kemampuan financial orang tua dalam menyediakan sarana dan prasarana belajar, menjadi tutor bagi mata pelajaran tertentu, kegiatan olah raga ataupun kegiatan rekreasi. Setelah melakukan pertimbangan tersebut maka orang tua dapat memilih format homeschooling yang akan dipilih, apakah homeschooling tunggal, majemuk atau bergabung dalam komunitas. Kegiatan yang dilakukan setelah menetapkan format homeschooling adalah memilih waktu belajar dan kegiatan anak, hal ini dilakukan agar kurikulum/program yang telah dibuat dapat dilakukan dengan baik. Keberhasilan pelaksanaan homeschooling adalah pada komitmen, kedisplinan dan kerja keras orang tua dalam memberi motivasi dan menjadi pendidik untuk anak.

Adapun syarat pelaksanaan homeschooling setiap format baik homeschooling tunggal, majemuk, dan komunitas adalah sama yaitu setiap homeschooler harus mendaftarkan diri ke Dinas Pendidikan melalui Kasubdin yang membidangi pendidikan luar sekolah. Tujuan pendaftaran ini adalah agar pemerintah tetap dapat memantau kualitas mutu pendidikan, dan para homeschooler juga mendapat perlindungan hukum atas haknya ketika memutuskan untuk masuk dalam pendidikan informal.

Lampiran-lampiran yang harus disertakan pada saat pendaftarannya adalah sebagai berikut; 1) ada surat pernyataan dari kedua orang tua yang menyatakan bahwa orang tua bertanggung jawab melaksanakan pendidikan anak-anak di rumah secara sadar dan berkesinambungan untuk keluarga yang memilih homeschooling tunggal, bagi yang memilih homeschooling majemuk dan komunitas homeschooling maka harus melampirkan surat pernyataan sama dengan di atas paling sedikit lima keluarga; 2) melampirkan surat pernyataan dari peserta didik di atas 13 tahun bahwa bersedia untuk memperoleh pendidikan melalui sekolahrumah; 3) melampirkan rapor, ijazah, atau surat berpenghargaan sama dari sekolah yang pernah diikuti peserta didik sebelumnya; 4) melampirkan surat pengunduran diri dari sekolah terdahulu jika peserta didik pernah mengikuti sekolah formal; 5) melampirkan program homeschooling yang sekurang-kurangnya mencantumkan format yang akan dipilih, seperti jadwal, alokasi, kegiatan, program dan kurikulum yang digunakan; 6) bagi komunitas homeschooling maka perlu melampirkan surat ijin dari badan hukum yang menaungi kepentingan dan keberadaan homeschooling antara lain; PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar), PT atau Yayasan. ( www.homeschooling.com : Homeschooling sebagai sebuah pendidikan ditulis pada 12 november 2007 oleh Pormadi )

2.7 Faktor-Faktor Pemicu dan Pendukung Homechooling

  • Kegagalan sekolah formal

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu. (www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)

  • Teori Inteligensi ganda

Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) (dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner). Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis – jenis inteligensi tersebut adalah Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial.Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali memasung inteligensi anak.

(Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

  • Sosok homeschooling terkenal

Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya. Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar. (www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)

  • Tersedianya aneka sarana

Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual). (www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)

2.8 Homeschooling vs Sekolah Umum

Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Sekolah umum seringkali dipandang sebagian orang lebih valid dan disukai.Namun bagi sebagian orang, sistem sekolah umum merupakan sekolah yang tidak memuaskan bagi perkembangan diri anak. Sekolah umum menjadi kambing hitam atas output yang dikeluarkannya. Hal ini terlihat dari output pendidikan formal banyak menjadi koruptor, pelaku mafia peradilan, politisi pembohong, dan penipu kelas kakap. Alasan kekecewaan itulah memicu keluarga-keluarga memilih sekolah rumah alias homeschooling sebagai pendidikan alternatif.

Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah umum, sama-sama sebagai sebuah sarana untuk menghantarkan anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua.Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang tua.Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua. (www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)

2.9 Kekurangan dan Kelebihan Homeschooling

Homeschooling memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekuatan homeschooling selain lebih memberikan kemandirian dan kreativitas kepada individu, homeschooling juga memberikan peluang pada peserta didik untuk memiliki kompetensi individual semaksimal mungkin, tidak harus mengikuti standar kompetensi yang ditentukan dalam kelas, anak terlindung dari kondisi sosial yang tidak baik, anak dipersiapkan pada kehidupan nyata, mampu menonjolkan kemampuan minat yang menjadi fokus, membantu anak untuk berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata, disertai kebebasan berpendapat, menolak, atau menyepakati nilai-nilai tertentu tanpa harus merasa takut mendapat celaan dari teman atau nilai kurang, membelajarkan anak pada berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial, dan memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya.

Selain kekuataan, homeschooling juga memiliki kelemahan. Homeschooling kurang memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai situasi dan status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga pada anak untuk belajar hidup di masyarakat, homeschooling dapat mengisolasi anak dari kenyataaan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu, anak tidak siap untuk menerima dan menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan. Meskipun demikian jika pendidikan formal dan pendidkan informal berjalan seiring maka keadaan keduannya dapat saling melengkapi dan menutupi satu sama lain. (www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Homeschooling menjadi kebutuhan setelah menyadari keterbatasan pendidikan formal dan hadir untuk memenuhi hak setiap orang untuk mendapat pendidikan. Hak untuk dapat berkembang dengan potensi dan keunikannya masing-masing tidak terbatas pada kondisi apapun. Kunci utama keberhasilan pendidikan anak informal adalah terletak pada komitmen dan kedisiplinan orang tua karena pendidikan anak kemudian sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu perlu beberapa pertimbangan dan alasan yang kuat untuk memilih mendidik anak di rumah. Pengetahuan orang tua tentang homeschooling dan prosedur pelaksanaannya baik dari segi hukum dan teknis harus diketahui dan dipahami secara mendalam agar orang tua lebih siap melakukan pendidikan mandiri di rumah. Kelemahan dan kelebihan dari homeschooling sepatutnya juga harus dipahami sebagai konsekuensi yang harus ditanggung baik oleh peserta didik maupun oleh orang tua yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak.

3.2 Saran

  • Perbanyak jumlah homeschooling di seluruh Indonesia karena belum tarsebar merata di Indonesia
  • Sesekali waktu, murid-murid homeschooling di Indonesia dikumpulkan bersama, agar dapat belajar berinteraksi dengan anak-anak antar homeschooling di seluruh Indonesia. Serta diadakan kegiatan-kegiatan seperti kunjungan ke sebuah organisasi masyarakat untuk belajar berinteraksi dan berorganisasi dengan masyarakat, study banding ke sekolah-sekolah formal. Agar mereka juga tahu bagaimana pendidikan di luar sana (sekolah formal)
  • Guru-gurunya diberikan pelatihan tentang homeschooling

DAFTAR PUSTAKA

(www.gogle.com :keluarga homeschooling indonesia:bdk. Sumardiono, 2007:4).

(www.gogle.com :keluarga homeschooling indonesia).

(www.yahoo.com : keluarga homeschooling indonesia:oleh Aar, 01 Februari 2007)

( www.homeschooling.com/indonesia.htm diakses tanggal 30 mei 2009 )

(www.yahoo.com : keluarga homeschooling indonesia :The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling”, Marsha Ransom, 2001)

( asahpenaindonesia@yahoogroups.com : diakses tanggal 28 april 2009 )

( www.homeschooling.com : Homeschooling sebagai sebuah pendidikan ditulis pada 12 november 2007 oleh Pormadi )

(www.gogle.com oleh Pormadi Simbolon,SS)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s